Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Maret 2019

Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Ada yang menarik dari pemilihan presiden (pilpres) 2019 ini. Iya, siapa lagi kalau bukan Sandiaga Uno.

Ia adalah seorang politikus muda, keren, ganteng dan sudah pasti menjadi idola baru kaum hawa generasi millenial hingga emak-emak seantero Nusantara.
Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 02 yang mendampingi Prabowo Subianto ini juga merupakan seorang pengusaha tajir yang hartanya mencapai Rp5 triliun.

Lihat: Man of The Match Debat Pilpres 2019

Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Jadi Sukses


Kini, semua kesehariannya, tingkah lakunya, hingga kegiatannya sehari-hari menjadi sorotan publik.

Masyarakat sangat antusias, terutama dari kaum hawa mengikuti apa saja yang dilakukan oleh Cawapres 02 ini.

Walaupun seorang yang tajir melintir, namun sering kali tampil sederhana, dengan setelan kasual, t-shirt atau kemeja biru laut, berpadu celana krem.

Pemilik nama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno inipun kerap kali dijumpai sedang berolahraga, terutama lari dan bermain basket.

Selain kaya dan sukses, ternyata Sandiaga Uno ini sangat menyukai olah raga.

Bahkan nanti jika ia terpilih menjadi Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024, ia akan mewajibkan olahraga minimal 22 menit sehari.

Tidak salah memang jika pria tampan ini mampu mengelilingi lebih dari 1.600 tempat di seluruh Indonesai hanya dalam enam bulan terakhir.

Suami dari Nur Asia ini sebelum mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden RI, ia pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Anies Baswedan.

Namun, belum habis masa jabatannya karena dipanggil untuk mendampingi Prabowo, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Bagi Sandi panggilan akrabnya, jabatan hanyalah amanah. Ia yakin jabatan adalah titipan dari Yang Maha Kuasa. Jika Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak, apapun bisa terjadi.

Sebagai pengusaha yang jatuh bangun dalam menjalankan bisnisnya, ia sudah banyak merasakan asam garam dalam kehidupan.

Bahkan ia pernah menganggur sampai tidak punya uang untuk membayar sewa rumah.

Namun, ia tidak pernah menyerah, ia memiliki prinsip hidup yang selalu dipegangnya hingga sampai saat ini.

Sampai akhirnya Sandi pernah masuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia tahun 2018.

Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses


Apa saja yang menjadi prinsip hidup Sandiaga Uno hingga ia menjadi seorang yang sukses dalam karier dan keluarga?

Mari kita simak satu persatu, sebagai bahan renungan dan bahan motivasi untuk kita agar bisa menjadi lebih sukses dan berhasil dalam hidup.

Mengutamakan Keluarga


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Sandiaga Salahudin Uno dilahirkan di Pekanbaru, Riau pada tanggal 28 Juni 1969 dari seorang ibu yang bernama Rachmini Rachman Uno.

Ibu Sandi adalah seorang pakar pendidikan kepribadian, jadi tidak salah jika Sandi memiliki kepribadian yang teguh dan tekat yang bulat.

Sedangkan sang ayah, Razif Halik Uno adalah dulunya seorang karyawan di perusahaan Chevron di Rumbai, Pekanbaru.

Sandi sejak dari kecil dididik dengan sangat tegas oleh sang ibu, hingga Sandi tumbuh menjadi sosok dengan kepribadian yang baik.

Ia bahkan pernah dihukum berat, karena kedapatan meniru teman-temannya mengucapkan sebuah umpatan.

Menginjak 40 tahun, Sandi telah memiliki tiga anak dari pasangannya, Noor Asiah Abdul Aziz.

Politikus dari Partai Gerindra ini merupakan suami sekaligus ayah yang selalu mengutamakan keluarga.

Ia selalu berusaha meluangkan waktu bersama istri dan anak-anaknya. Ia bahkan sangat dekat dengan putra bungsunya, Sulaiman Saladdin Uno. 

Lihat: Fakta Menarik Sandiaga Uno

Kuliah dan Berkarier di Luar Negeri


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Sandi menamatkan SMA Pangudi Luhur, Jakarta. Walaupun Sandi berdarah Gorontalo dan lahir di Pekanbaru, Riau, ini memilih untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat.

Tepatnya di Wichita State University, dan lulus dengan predikat summa cumlaude dengan gelar Sarjana Administrasi Bisnis.

Pada tahun 1990, Sandi bekerja sebagai karyawan di Bank Summa, dan ini adalah awal mula karir Sandi.

Ditempat ini ia banyak mendapatkan pelajaran tentang bisnis, yang langsung dimentori oleh pemilik dari Bank Summa, William Soeryadidjaya.

Setelah satu tahun bekerja di Bank Summa, ia kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang ilmu yang sama yakni Admninistrasi Bisnis. 

Lulus dan mendapatkan gelar M.B.A dari George Washington University, AS pada tahun 1993, Sandi kemudian memilih untuk berkarier di Singapura.

Di Singapura ia bekerja sebagai manajer investasi pada perusahaan Seapower Asia Investment Limited, yang pada tahun berikutnya ia mengambil kesempatan bekerja di MP Holding Limited Group, hingga pada akhir tahun 1994.

Pada tahun 1995, Sandi didapuk sebagai Wakil Presiden Eksekutif di NTI Resources Ltd.

Disini, ia mendapatkan gaji yang sangat fantastis yakni sebesar USD8.000 per bulan, yang jika dirupiahkan saat ini sekitar kurang lebih 112 juta rupiah perbulan.

Pada tahun 1997 dunia dilanda krisis moneter, dan Indonesai pun tidak luput dari badai krismon ini.

Perusahaan yang Sandi menjadi Wakil Presiden Eksekutif nya ini pun bangkrut, dan ia pun harus rela kehilangan pekerjaannya.

Menjadi Pengangguran sampai Jadi Pebisnis Andal


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Namun, krisi moneter yang melanda ini tidak membuat Sandi menjadi putus asa, apalagi akibat krismon ini investasinya di pasar saham mengalami kerugian besar.

Kemudian Sandi akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dan di Indonesia Sandi menyandang predikat sebagai seorang pengangguran.

Menyerah? Tidak!

Sandi tidak pernah putus asa, baginya selalu ada kesempatan disetiap kegagalan.

Sandi pun mulai berjuang dari nol, mulai melamar pekerjaan ke sana kemari.

Ujian yang dihadapinya tidak sampai disini, entah sudah ada berapa lamaran pekerjaan yang dilayangkannya, namun sayang tidak ada satu perusahaanpun yang melirik lamarannya.

Kondisi ekonomi di Tanah Air yang saat itu memang sangat sulit membuat Sandi tidak mampu membayar uang sewa rumah dan pada akhirnya ia pun harus pindah ke rumah orangtua di Jakarta.

Seperti manusia biasa pada umumnya, Sandi juga pernah hampir menyerah, namun ia sadar, jika menyerah kegagalan itu PASTI, namun jika ia berusaha, masih ada banyak kemungkinan yang akan diraihnya, hingga pikirannya kembali terbuka.

Ia akhirnya melihat sebuah peluang usaha bagus di tengah-tengah kondisi krisis yang masih membelit Indonesia.

Sandipun mengajak rekannya untuk mendirikan perusahaan penasehat keuangan dan pada akhirnya berdirilah PT Recapital Advisors.

Sandi masih sering mendapatkan wajengan dari mentor sekaligus bos pertama Sandi dulu, yakni William Soeryadjaya.

Hingga pada tahun 1999, Sandi pun berkolaborasi dengan Edwin Soeryadjaya untuk mendirikan PT Saratoga Investama Sedaya.

Sebuah perusahaan investasi di bidang pertambangan, telekomunikasi, serta produk kehutanan.

PT Saratoga bekerja dengan cara mengumpulkan investasi untuk mengakuisisi perusahaan ‘sakit’, kemudian membenahi kinerja perusahaan tersebut, hingga perusahaan tersebut membaik, lalu aset perusahaan dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Bisnis Sandi dalam mengelola perusahaan Saratoga terbilang sangat sukses. 

Hanya dalam waktu 10 tahun, perusahaan tersebut berhasil mengambilalih sekitar 12 perusahaan, di antaranya yang berhasil dijual kembali adalah PT Dipasena Citra Darmaja, PT BTPN, serta PT Astra Microtronics.

Apakah itu cukup buat Sandi? Tidak juga, Sandi bahkan tercatat dalam jajaran direksi di berbagai perusahaan.

Kurang lebih ada lima perusahaan yang dikelolanya saat itu, yakni PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, dan PT. iForte Solusi Infotek. 

Menjadi Salah Satu Orang Terkaya di Indonesia


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Sejak tahun 1999 karier mulai melonjak naik, kesuksesan mulai menghampirinya.

Usaha Sandi dalam membangun bisnis membuahkan hasil.

Hingga pada 2007, Majalah Globe Asia menempatkannya di deretan orang terkaya di Indonesia.

Tepatnya Sandi menduduki peringkat 63 dengan total kekayaan mencapai 245 juta Dollar.

Setahun kemudian, Sandi meraih gelar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes di urutan ke-29 dengan nilai kekayaan mencapai 400 juta Dollar.

Namun, pada tahun 2018, kekayaan Sandiaga Uno tercatat hanya sebesar 300 juta Dollar atau sekitar 4,2 triliun rupiah jika kurs rupiah 14.000 dan masih tetap masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia di posisi 85 versi Globe Asia.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) pada Rabu, 15 Agustus 2018 yang diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Calon Wakil Presiden Nomor urut 02 ini memiliki kekayaan senilai 5 triliun rupiah.

Memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Dalam urusan kepemimpinan, tentu saja kemampuan Sandi sudah tidak dapat diragukan lagi. Selain sukses memimpin bisnisnya, Sandi juga dikenal sebagai seorang organisator ulung.

Ia pernah menjabat Ketua Umum HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) periode 2005-2008.

Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Umum HIPMI, jumlah pengusaha yang bergabung dengan organisasi tersebut meningkat 40%, yaitu 35 ribu pengusaha. 

Selain ganteng, dan kaya, tidak membuat Sandi sombong dan pelit dengan ilmu.

Sandi terkenal sangat royal terhadap ilmu yang dimilikinya. Ia dikenal tidak pelit berbagi ilmu ataupun rahasia suksesnya kepada para pengusaha, termasuk skala Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Etos kerja yang dipegangnya hingga saat ini adalah 4S yakni: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Kerja Ikhlas.

Iapun mengajak para pengusaha untuk menjalankan etos kerja 4S ini, agar dapat menjadi pengusaha yang sukses.

Selain itu, Sandi selalu mengatakan, bahwa kesuksesan berawal dari rasa berani dan optimisme. Meski relasi penting, namun unsur kesuksesan yang utama adalah bekerja keras dan menjaga kepercayaan. 

Menjadi Politisi


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Sandi yang telah berhasil memimpin beberapa perusahaan besar serta pernah menjabat sebagai ketua organisasi pengusaha muda Indonesai (HIPMI) ternyata tidak lepas dari darah politik yang mengalir ditubuhnya.

Kakek Sandi, Raden Abdullah Rachman ternyata adalah seorang tokoh pendiri partai politik Gerkindo (Gerakan Kebangsaan Indonesia) di Gorontalo.

Pada tahun 2015, Sandi resmi melepas jabatan Direktur Utama di PT Saratoga dan jabatan lain di berbagai perusahaan.

Ia ingin fokus melanjutkan perjuangan politik sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina di Partai Gerindra bersama Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto adalah sosok yang merayu Sandi untuk masuk kedalam dunia politik tanah air.

Menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Sandi pun diusung untuk mendampingi Anies Baswedan pada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta dan terpilih pada 16 Oktober 2017.

Selanjutnya Prabowo Subianto "meminang " Sandi untuk maju menjadi Cawapres nya di Pilpres 2019.

Suka Olahraga Lari dan Basket


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Karena kecintaannya pada olah raga, terutama lari dan basket, ia pun pernah ditunjuk sebagai manajer tim basket putri saat ajang Sea Games 2005 di Filipina dan dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).

Hobi olahraga dan main basket sejak di bangku sekolah, membuatnya mudah dekat dengan para pemilih, terutama generasi milenial dengan harapan mampu menyebarkan virus gaya hidup sehat.

Selalu Ada Kesempatan dari Setiap Kegagalan


Ada yang menarik dari pemilihan presiden  Prinsip Hidup Sandiaga Uno Hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Salah satu mantra sukses Sandi yakni Selalu Ada Kesempatan dari Setiap Kegagalan.

Inilah mantra atau kata-kata sukses yang selalu diingatnya.

Dari pengalaman hidupnya yang pernah bekerja diluar negeri dan menjadi Wakil Presiden Eksekutif sebuah perusahaan, hingga akhirnya menjadi pengangguran, mantra sukses inilah yang menjadi penyemangat Sandi untuk terus bangkit dan berjuang.

Menurut Sandi, sebelum mencapai kesuksesan, setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Kisah hidup dan perjuangan Sandi dalam meraih kesuksesan hingga menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, ia tuangkan dalam sebuah buku yang terbit tahun 2017, berjudul "Kerja Tuntas, Kerja Ikhlas: One Way Ticket to Success".

Orang gagal adalah orang yang menyerah. Karena ketika ia menyerah, maka kegagalan itu adalah KEPASTIAN. Karena itu, Sandi ketika gagal, tidak pernah menyerah.

Bahkan ia selalu beranggapan bahwa kegagalan itu memberikan banyak kesempatan.

Dari orang yang pernah kembali ke titik nol menjadi pengangguran, namun masih memiliki optimisme yang tinggi dan berani mengambil kesempatan untuk meraih sukses.

Lihat: Sandiaga: Saya Teringat Banyak Janji

Kita Juga Bisa Sukses Seperti Sandiaga Uno


Kisah hidup Sandiaga Uno jika dirasa-rasa hampir mirip sinetron.

Seorang pemuda yang kaya raya, dengan gaji lebih dari seratus juga perbulan, hingga terpuruk menjadi pengangguran dan tidak mampu membayar sewa rumah.

Bangkit kembali dengan segala daya dan upayanya; kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas hingga akhirnya menjadi pengusaha sukses dan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan lebih dari 5 trilyun rupiah.

Bagaimana dengan Anda? Saya? Kita?

Siapapun itu, selama kita memiliki prinsip yang sama, apapun kondisi yang kita alami saat ini, kita masih tetap memiliki kesempatan untuk sukses seperti layaknya Sandiaga Uno.

Jadi, ayo mulai sekarang kita kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja tuntas, jangan setengah-setengah dan pantang menyerah. Ingat 17 April 2019 Coblos Nomor 02. Sukses Milik Anda, Saya, Kita, Indonesia!

Selasa, 19 Maret 2019

Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Perang tagar #02vsNU dan #02vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter.

Berdasarkan data yang kami ambil dari Droneemprit nya Ismail Fahmi (@ismailfahmi);
vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Perang tagar ini dimulai dari kubu 02 yang melaporkan Said Aqil atas pernyataannya yang mengatakan bahwa kelompok radikal dan ekstrimis berada dikubu 02.

Perang Tagar #02vsNU dan #02vsPKI


Atas pernyataan Said Aqil ini kubu 02 tidak terima dan melaporkan Said ke bareskrim Polri.

Tagar #02vsNU ini sendiri dimulai sejak kemarin 21 Maret 2019 sejak pukul 08.00 WIB.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Trending Topik Twitter 21 Maret 2019

Pada satu jam pertama narasi yang coba dibangun dari #02vsNU ini tentang kubu 02 yang dihuni oleh ekstrimis, Islam garis keras, radikal, intoleran dan HTI.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Trending Topik Twitter Tengah Malam 21-22 Maret 2019

Sedangkan tagar #02vsPKI muncul sejak kemarin pukul 14:00, namun baru naik jadi tagar bersama malam harinya, pada pukul 20:00.

Narasi yang coba mereka angkat adalah cara kubu 01 yang ingin membenturkan kalangan umat Islam, khususnya warga Nahdliyin.

Sebelum #02vsPKI berangsur naik ke trending topik di Indonesia, sebagai bentuk protes dari warga NU, tagar #NahdliyinBukanJokower telah lebih dulu menjadi trending topik twitter di Indonesia.

Atas laporan kubu 02 terhadap Said Aqil, yang tersinggung seharusnya warga NU, atau organisasi-organisasi yang berada dibawah NU.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Namun, dari data droneemprit, ternyata top influencer yang menaikkan tagar #02vsNU ini bukanlah dari orang-orang NU.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Seharusnya yang tersinggung adalah kalangan NU, akan tetapi dari top influencer #02vsNU, tak satu pun akun terafiliasi NU, seperti dari banser, dan lain-lain ada di sana.

Hampir semuanya dari top influencer cluster kubu 01.

Sedangkan yang memainkan tagar #02vsPKI, memang dari top influencer 02 sendiri.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Artinya disini, jelas clustur kubu 01 ini mencoba untuk membenturkan warga NU pendukung 02 dan pendukung 01.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Yang mana, dari narasi yang coba dibangun, isi nya adalah tentang provokasi dan fitnah terhadap 02.

Sedangkan 02 mencoba untuk menjelaskan kepada warga NU dan umat Islam tentang siapa yang berada dibalik 02, yakni membantah fitnah keji yang ditujukan kepada 02 melalui tagar #02vsPKI.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Perang tagar #02vsNU dan #02vsPKI hingga saat ini masih berlangsung, dan hingga saat ini, grafik menunjukkan bahwa tagar #02vsNU sudah mulai disalip tagar #02vsPKI.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Grafik tren memperlihatkan perang tagar ini dimulai oleh #02vsNU. Selang beberapa jam kemudian baru dibalas dengan #02vsPKI.

vsPKI sejak dari kemarin mulai masif dimedia sosial twitter Perang Tagar Kian Memanas, Hari Ini Perang Tagar 02vsNU dan 02vsPKI

Trending Topik Twitter Pagi 22 Maret 2019
All Image credit: Ismail Fahmi (@ismailfahmi)

Pagi ini tagar yg membenturkan 02 dengan NU (#02vsNU) mulai disalip oleh tagar 02 lawan PKI (#02vsPKI) tersebut.

Minggu, 03 Maret 2019

Refleksi 4 Tahun 5 Bulan Pemerintahan Jokowi - JK

Sudah kurang lebih 4 tahun 5 bulan pemerintahan Jokowi-JK sebagai Presiden Indonesia ke-7, sejak dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014 yang silam.
 Banyak hal yang telah terjadi sejak keduanya dilantik menjadi orang nomor satu dan nomor  Refleksi 4 Tahun 5 Bulan Pemerintahan Jokowi - JK

Banyak hal yang telah terjadi sejak keduanya dilantik menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Indonesia.

Refleksi Pemerintahan Jokowi - JK


Janji-janji pada masa kampanye yang telah terucap dulu, hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk dipenuhi.

Adakah janji yang sudah atau sedang direalisasikan saat ini?

Atau apakah janji-janji tersebut tidak ia tepati atau bahkan ia langgar selama memimpin negeri ini?

Mari, kita lihat kembali janji-janji masa kampanye pemilihan presiden tahun 2014 yang lalu dari pasangan Jokowi-JK.

Empat tahun 5 bulan sudah janji Joko “Jokowi” Widodo dan Jusuf “JK” Kalla terucap.

Jika kita lihat kembali ke belakang ada sekitar 66 janji yang terucap pada masa kampanye pilpres 2014 hingga menjabat sebagai Presiden RI.

Saat debat perdana Pilpres 2019 yang baru terjadi beberapa saat yang lalu, Jokowi mengatakan bahwa ia tidak punya beban masa lalu.

Benarkah?

Janji Janji Jokowi - JK


Baiklah, mari kita bahas. Kami akan membaginya kedalam 5 kategori, janj-janji Jokowi-JK:

 Banyak hal yang telah terjadi sejak keduanya dilantik menjadi orang nomor satu dan nomor  Refleksi 4 Tahun 5 Bulan Pemerintahan Jokowi - JK

Hukum dan Politik


  1. Jokowi Janji akan Tetap Blusukan bila Jadi Presiden
  2. Jokowi Janji Benahi Kawasan Masjid Agung Banten
  3. Membangun E-government, E-budgeting, E-procurement, E-catalog, E-audit Kurang dari 2 Minggu
  4. Terbitkan Perpres Pemberantasan Korupsi
  5. Menggunakan Pesawat Tanpa Awak untuk meng-Cover wilayah lndonesia
  6. Tidak bagi-bagi Kursi Menteri ke Partai Pendukungnya
  7. Jokowi Janji Tak Berada di bawah Bayang Megawati
  8. Tanggal 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional
  9. Mudah ditemui oleh warga Papua
  10. Akan berbicara terkait kasus BLBI
  11. Memperkuat KPK (meningkatkan anggarannya 10x lipat, menambah jumlah penyidik, regulasi)
  12. Membuktikan janji-janji dalam visi-misi
  13. Menyusun kabinet yang ramping dan diisi oleh profesional
  14. Menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran HAM di masa lalu
  15. Menjadikan perangkat desa jadi PNS secara bertahap
  16. Cuma satu dua jam saja di kantor, selebihnya bertemu rakyat
  17. Mengusut kasus penculikan aktivis pada 1998


Pendidikan dan Kesehatan


  1. Jokowi Janjikan Bangun 50.000 Puskesmas
  2. Jokowi Janji Beri Berapapun Anggaran Pendidikan
  3. Jokowi Janji Hapus Ujian Nasional
  4. Meningkatkan Pemberian Beasiswa
  5. Jokowi Janji ‘Sulap’ KJS-KJP Jadi Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar
  6. Membantu meningkatkan mutu pendidikan pesantren guna meningkatkan kualitas pendidikan nasional dan 24Meningkatkan kesejahteraan guru-guru pesantren sebagai bagian komponen pendidik bangsa
  7. Meningkatkan kualitas pendidikan melalui pembenahan tenaga pengajar yang punya kemampuan merata 26diseluruh Nusantara
  8. Jokowi Pilih Mendikbud dari PGRI Jika Jadi Presiden
  9. Memberikan gaji besar bagi para ahli asal Indonesia
  10. Menaikkan gaji guru
  11. Sekolah gratis
  12. Menangani kabut asap di Riau


3. Ekonomi dan Energi


  1. Janji Jokowi-JK Besarkan Pertamina Kalahkan Petronas dalam 5 Tahun
  2. Swasembada Pangan (Kemandirian Pangan alias tidak impor pangan)
  3. Membuat Bank Tani untuk Mengurangi Impor Pangan
  4. Jokowi Janji Cetak 10.000.000 Lapangan Kerja Jika Jadi Presiden
  5. Jokowi Janji Buka 3.000.000 Lahan Pertanian Baru
  6. Jokowi Janji Batasi Bank Asing
  7. Berjanji Membangun Tol Laut dari Aceh hingga Papua
  8. Berjanji untuk Mengurangi Impor Pestisida dan Bibit Pertanian
  9. Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen
  10. Meningkatkan Pembangunan Infrastruktur seperti, Pelabuhan, Bandara, di wilayah Indonesia Bagian Timur
  11. Dana Rp 1,4 Miliar per Desa Setiap Tahun
  12. Kepemilikan Tanah Pertanian untuk 4,5 juta Kepala Keluarga dan Perbaikan Irigasi di 3 juta Hektar Sawah
  13. Membangun 100 Sentra Perikanan yang dilengkapi Lemari Berpendingin
  14. Membentuk Bank Khusus Nelayan
  15. Mengalihkan Penggunaan BBM ke Gas dalam waktu 3 Tahun
  16. Membenahi Jakarta (macet, banjir, dll)
  17. Menurunkan harga sembako, meningkatkan kualitas dan kuantitas program raskin
  18. Memperhatikan permasalahan outsourcing
  19. Menghapus subsidi BBM
  20. Meningkatkan profesionalisme, menaikkan gaji dan kesejahteraan PNS, TNI dan Polri
  21. Meningkatkan anggaran penanggulangan kemiskinan termasuk memberi subsidi Rp1 juta per bulan untuk keluarga pra sejahtera sepanjang pertumbuhan ekonomi di atas 7%
  22. Perbaikan 5.000 pasar tradisional dan membangun pusat pelelangan, penyimpanan dan pengolahan ikan
  23. Menghentikan impor daging
  24. Menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan di sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur
  25. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, listrik, irigasi, dan pelabuhan
  26. Meningkatkan 3 kali lipat anggaran pertahanan
  27. Membeli kembali Indosat
  28. Membangun industri maritim
  29. Menyederhanakan regulasi perikanan
  30. Mempermudah nelayan mendapatkan Solar sebagai bahan bakar kapal dengan mendirikan SPBU khusus
  31. Menyejahterakan kehidupan petani
  32. Mengelola persediaan pupuk dan menjaga harga tetap murah
  33.  Membangun banyak bendungan dan irigasi
  34. Meningkatkan Industri Kreatif sebagai salah satu Kunci Kesejahteraan Masyarakat
  35. Jika Menang, Jokowi Janjikan Internet Cepat


Hubungan Luar Negeri


  1. Mendukung kemerdekaan dan mendirikan KBRI di Palestina


Lingkungan Hidup


  1. Menyelesaikan masalah korban lumpur Lapindo


Refleksi 4 tahun Jokowi - JK oleh Zeng Wei Jian


Joko Widodo menjadi Presiden setelah menang tipis dari Letnan Jenderal Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto adalah orang yang paling berjasa membawanya ke pentas politik nasional.

Kala itu, Taufik Kiemas (suami Megawati) tidak setuju Joko Widodo ditarik ke Jakarta untuk ikut kontestasi pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Saat itu, pengusaha nasional Hashim Joyohadikusumo, yang juga adik dari Pak Prabowo, adalah pihak yang mendanai kampanye Joko Widodo melawan Foke di Pilgub Jakarta.

Jokowi tidak memiliki uang kala itu, ia menghadap Hashim untuk membicarakan biaya untuk mengikuti pemilihan Gubernur DKI Jakarta, dengan nominal setidaknya 60 milyar.

Lucunya, pada debat #1 Pilpres 2019, dengan entengnya Joko Widodo menyatakan tidak mengeluarkan dana sepeserpun saat Pilgub.

Netizen teriak, ya jelas tidak mengeluarkan duit, lah wong Pak Hashim adik Prabowo yang bayarin.

Tanpa sadar Jokowi telah menjatuhkan dirinya sendiri dengan mengatakan hal itu pada debat pilpres 1 2019 lalu.

Ia sekarang dianggap sebagai orang seperti kacang lupa kulit, tidak tahu terimakasih dan arogan.

Kemenangan Jokowi- JK pada pilpres 2014 diselimuti kontroversi dugaan mal-praktek KPU sampai konspirasi global antara Barrack Obama dan Xi Jinping.

Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi tak pernah memiliki desain kebijakan pembangunan yang komprehensif.

Menjual penampilannya sederhana, memikat dengan wajah Ndeso, lugu, membuat publik merasa belum pernah dipimpin presiden berkemeja putih lengan panjang digulung.

Tanpa jas dan dasi, "blusukan" menjadi trademarknya, masuk gorong-gorong pencitraannya.

Ditambah lagi dengan antipati dan character assasination terhadap Orde Baru masih dimainkan aktifis progresif, liberal, sosialis palsu, leftist dan civil society.

Supaya bisa menjadi komisaris atau anggota dewan, mereka butuh legitimasi rakyat.

Legitimasi itu dibangun atas sebuah "common enemy" yang dibenci.

Narasi Hantu "Kebangkitan Orde Baru" dihidupkan menakuti rakyat. Another type of mass psychological terror.

Selama masa kampanye pilpres 2014, sebuah metode baru diterapkan.

Memainkan sosial media secara massif, terstruktur dan sistematis.

Relawan Jasmev sudah dibentuk. Ready to fight. Media-social war dimulai.

Tanpa lawan, mereka obrak-abrik informasi internet. Segala rasionalisasi, apologetik, framing dan hoax ditebar secara massif.

Pencintraan selama di Solo dan Jakarta diulang-ulang seperti kaset kusut, seperti lagu lama kaset baru.

Setiap hari, publik difeeding berbagai jargon, slogan, obral janji ini-itu dan jualan macam-macam kartu.

Jargon: "Benahi banjir dan macet Jakarta lebih mudah bila jadi presiden"

Jargon: "Stop utang, stop impor"

Jargon: "Janji tidak menggusur"

Jargon: "Tidak bagi-bagi kursi"

Jargon: "Tol laut"

Jargon: "Buyback indosat"

Jargon: "Pertumbuhan ekonomi 7%"

Dan yang paling fenomenal adalah "stealth mode car" Mobil Esemka.

Mobil yang tidak terditeksi oleh radar yang memiliki teknologi super canggih sekalipun, bahkan tidak terdeteksi panca-indera.

Setelah dilantik, Joko Widodo, jangankan inget Jakarta, katanya tidak bagi-bagi kursi, eh..malah dia bagi-bagi kursi.

Nasdem yang paling beruntung dapet jatah posisi paling strategis, dapat jatah kursi Jaksa Agung.

Para Relawan diangkat jadi komisaris-komisaris BUMN.

Walaupun kualifikasi mereka sering dipertanyakan, seperti misalnya, background Fadjroel Rahman yang dikenal sebagai pengamat politik dan aktifis eh, direposisi menjadi Komisaris Utama BUMN Konstruksi PT Adhi Karya.

Juni 2015, Presiden Joko Widodo secara terbuka mengekspresikan dukungan kepada "Islam Nusantara".

Menteri Susi mulai melancarkan kampanye bombastis meledakan kapal-kapal asing.

Agresif dan offensive.

Policy Cantrang sulitkan nelayan.

Nasib nelayan tetap kere, masih susah melaut.

Slogan "revolusi mental" dan "Kerja Kerja Kerja" jadi jampi-jampi ajaib.

Sejak Jokowi dilantik jadi presiden, Ahok yang dulu wakilnya di DKI Jakarta dan menjadi Gubernur DKI, mulai bertingkah.

Gusur sana-sini, serang DPRD, caci-maki banyak orang.

Buzzer Jasmev kerja maximal.

Proses branding dan attacking oposisi dirilis simultant.

Skandal "Papa Minta Saham" meletus. Ahoker ikut menghujat Setya Novanto.

Jadi "Papa Kesayangan Ahokers" setelah Setya Novanto ikut mengusung Ahok-Jarot di Pilgub Jakarta.

Dicaci-maki lagi setelah kasus megakorupsi ektp dieksekusi KPK.

Polemik reklamasi mencuat ke permukaan setelah Ahok membombardir dan menghapus Kampung Aquarium dari peta kota.

Ahok bilang Jokowi ngga bisa jadi presiden tanpa bantuan pengembang.

Menko Maritim Rizal Ramli merilis perlawanan.

Stop reklamasi judulnya, saling serang dan pecah di media.

Akhirnya, Kabinet di-resuffle.

Menteri Anies Baswedan dan Menko Rizal Ramli disingkirkan dari Kabinet Kerja.

Ahok melenggang teruskan reklamasi.

Diback-up Menko Maritim Baru Jenderal Luhut Binsar Panjaitan.

Saat itu, Setya Novanto telah kembali ke arena.

Rebound. Jadi pendukung utama istana.

Menteri ESDM Sudirman Said disikat dan diganti oleh Arcandra Tahar yang berkewarga-negaraan ganda. Melanggar aturan? TIDAK (kata mereka)

Tiba-tiba Buni Yani posting orasi Ahok di Pulau Pramuka. Jadi polemik nasional. Ahok dirasa menoda Surat Al Maidah 51. Menista Agama.

FPI turun ke jalan. Aksi Bela Islam 1 pecah tanggal 14 Oktober 2016. Tuntutannya: Tangkap Ahok.

Kyai Maruf Amin mengeluarkan Fatwa MUI Ahok dinyatakan menoda dan menista agama.

Aksi Bela Islam 2 dirilis tanggal 11 November 2016. Kepung Istana.

Aksi dibubarkan dengan hujan tembakan gas air mata. Jam 11 malam, dua alfamart dijarah massa yang tidak termasuk dalam aksi Bela Islam, di Bandengan.

Jakarta mencekam. Glodok diblokade.

Ahok bagaimana? Tetap bebas.

Kasusnya mau dianulir mau dipeti es kan. Dibela mati-matian.

Aksi Bela Islam 3 pecah tanggal 02 Desember 2016 (212).

Jelang subuhnya belasan orang ditangkap dengan tuduhan makar.

Para buzzer semakin menggila. Meneror kesadaran dengan halusinasi "Suriahnisasi". Ulama fundamentalis jadi obyek bully.

Ahok kalah pilkada DKI. Kalah hingga dua digit dan akhirnya masuk bui Mako Brimob.

Protes tak henti-hentinya dirilis. Sampai bebas, Ahok ditahan di sana.

Jokowi dimana? Joko Widodo gak pernah besuk Ahok.

Memasuki April 2018, media sosial dibikin geram atas pernyataan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek.

Selain sering beda pendapat dan bikin gaduh, para menteri Kabinet Kerja acapkali mengeluarkan statement yang membuat rakyat kesel.

Ketika harga cabe naik, rakyat disuruh tanam cabe sendiri.

Harga beras melonjak, rakyat disuruh nawar.

Menteri Puan Maharani putri kesayangan "Ibu Suri" Megawati minta orang miskin diet dan tak banyak makan ketika harga sembako meroket.

Aneh? TIDAK bagi mereka. Itu solusi yang paling masuk akal.

Bukankah seharusnya dia cari solusi turunkan harga? Oh, tidak, solusi turunkan harga hanya bagi orang yang berakal sehat.

Tanggal 02 Oktober 2018, Reuters merilis berita dollar tembus 15 ribu rupiah.

Selama tiga bulan rupiah terdepresiasi 7.6% dari 13.930 rupiah di bulan Juni.

PKS tagih janji Joko Widodo untuk jaga dolar di bawah 10 ribu rupiah.

Sebulan kemudian, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, "Rupiah Tak Melemah, Dolar yang Menguat".  WOW!! FANTASTIS!

Expor beras, garam, gula, terus berlangsung.

Petani panen raya, Jokowi Impor Beras. Petani Menjerit, Jokowi: "Menjaga stok beras nasional".

Kabulog: Stok beras melimpah.

Memperindag: "Kita kekurangan beras, harus impor"

FANTASTIS!

Harga cabe jatoh.

Sidang peradilan Ahmad Dhani terus berlanjut.

Jelang Pilpres, Prof Mahfud MD diminta ukur baju sebagai Calon Wakil Presiden.

"Ini panggilan sejarah," kata Prof Mahfud MD dengan mataberbinar-binar.

Muhaimin Iskandar, Rommy, Maruf Amin, Said Aqil Sirad bereaksi.

PBNU tidak mengakui Mahfud MD sebagai Kader NU.

Akhirnya, Maruf Amin resmi diusung sebagai Cawapres dampingi Joko Widodo.

Mahfud MD kecele, dan gigit jari.

Pulau Madura gagal menoreh sejarah punya seorang Cawapres.

Ahoker bergejolak. Kaget. Shock. Gigit jari. Mereka ancam golput.

Masih terngiang-ngiang ketika Kyai Maruf Amin jadi saksi ahli yang memberatkan Ahok.

Muhaimin Iskandar menyatakan akan berusaha rangkul Ahoker dan minoritas.

Ratna Sarumpaet menciptakan hoax. Ngaku dianiaya. Eh, ga taunya operasi plastik.

Pak Prabowo, Sandi, Amin Rais, Hanum Rais, Fadli Zon, Rocky Gerung dan lain-lain jadi korban.

Satu Republik ditipu.

Yusril Izha Mahendra, Denny JA dan La Nyalla Matalitti menyusul Kapitra Ampera dan UYM (Ustadz Yusuf Mansur) masuk Kubu Joko Widodo.

Prabowo-Sandi langsung diserbu serangan SARA.

Dikatakan bukan "Pejuang Islam". Foto Joko Widodo jadi imam sholat disebar guna menutup polemik "Alpateka" dan "Lahola kola kota bila".

Sebulan kemudian, Yusril bikin heboh dengan rencana pembebasan Ustad Abu Bakar Basyir.

Sudah fix katanya.

Diaminin Jokowi, demi kemanusiaan. Ucapnya.

Cawapres Maruf Amin dan Sekjen PKB Abdul Kadir Karding memuji Presiden Joko Widodo.

Ahoker die-hard, aktifis HAM, komunis, liberal dan Australia bereaksi. Ahoker say good bye ke Joko Widodo.

Istana Grogi, panas dingin.

Gak lama kok! Besoknya Jenderal Wiranto konperensi pers. Menteri mengkoreksi Presiden, bawahan mengkoreksi atasan didepan publik, dia bilang: Presiden Jangan Grasa Grusu.

Ustad Abu Bakar Basyir batal bebas.

Elektabilitas Paslon Ko-Ruf Nomor Urut 1 yang tadinya stagnan, terus turun.

Meme "made in Denny JA malfungsi".

Joko Widodo mulai agresif.

Sindir-sindir dan nyinyirin Prabowo-Sandi. Permainan kata seperti "Gendruwo, Sontoloyo, Tabok" sengaja dimainkan menutup isu-isu krusial semisal DPT bermasalah, TKA dan PKI.

Bahkan sampe nyarang pribadi Prabowo.

Jokowi KAGET, gaji guru 300rb, Kaget kemacetan Jabodetabek negara rugi 65 triliun. Kaget tiket pesawat mahal.

Eh, giliran tanah Probowo, jokowi HAFAL.

KPU, Panwas, Bawaslu dituding berpihak. Anies Baswedan diperiksa setelah menghadiri Silatnas Partai Gerindra.

Forum Alumni Jatim #01 membuat hetrik setelah memberi gelar "Cak Jancuk" kepada Joko Widodo.

Di situ, dia menyebut istilah "Propaganda Rusia" yang menyulut reaksi dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.

Sejumlah BUMN merugi, BPJS defisit, hutang bengkak dan Agnes Mo diundang ke istana.

Buruh Pertamina yang dipecat dibiarkan tidur di jalanan. Hanya di era Joko Widodo saja, doa bisa diralat. Tidak percaya? Tanya Romi. (Zeng Wei Jian)

Sabtu, 02 Maret 2019

Sudut Pandang Kang Emil dan Sudut Pandang Bang Anies - oleh Balya Nur

"Tadi saya melihat film ini, Dilan itu, sebuah kesederhanaan yang diambil sudutnya, dengan sudut pandang, dengan kamera yang pas gitu. Jadinya, semuanya apa, e, kaget dan menjadi sebuah booming. Ini sudah lebih dari berapa? Tujuh juta kan?"

Itu pendapat Jokowi setahun lalu, 25 Pebruari 2018 setelah menonton film Dilan.
 sebuah kesederhanaan yang diambil sudutnya Sudut Pandang Kang Emil dan Sudut Pandang Bang Anies - oleh Balya Nur

Entahlah, apakah karena ada kata sudut, maka Kang Emil punya ide bikin Sudut Dilan di sebuah taman di Bandung.

Sudut Pandang Kang Emil - Bang Anies


Pembuatan Sudut Dilan menurut Kang Emil sangat bermanfaat dan menunjukkan keberpihakannya kepada pengembangan kebudayaan Jawa Barat.

Baca juga: Polemik Doa Bunda Neno

Sudut Dilan akan jadi tempat untuk mengekspresikan nilai sastra, sebab menurutnya, film Dilan mengekspesikan nilai sastra itu sendiri.

Benar kata Jokowi, Dilan memang bisa bikin “semuanya, apa, e, kaget dan menjadi sebuah booming.”

Sebagian masyarakat kaget, para budayawan kaget, pengamat kaget, sastrawan kaget.

Salah satu yang kaget, kritikus sastra Maman Mahayana.

Maman menyoal kontribusi Dilan.

Maman mengusulkan agar orang nomor satu di Jawa Barat itu mempertimbangkan apakah sosok yang diusulkan memiliki kontribusi bagi bangsa Indonesia atau tidak.

Bahkan, Maman menyebutkan jika hal itu sangat berbahaya dampaknya, terutama bagi masyarakat.

"Kalau kemudian pemerintah atau siapapun membuat nama-nama yang belum jelas kontribusinya itu naif. Pelajari dulu lah sejarah atau cari orang-orang yang memang pantas. Itu sangat berbahaya," serunya.

“Kalau pejabat melakukan seperti itu nanti akan ditiru oleh masyarakat. Itu orang tuna sejarah itu, latah dan ikut heboh pada sesuatu yang tidak jelas. Naif itu," lanjut Maman.

Soal apakah novel Dilan punya nilai sastra, Maman tidak mau buru-buru menilai.

Banyak dikatakan jika novel Dilan karya Pidi Baiq tersebut belum layak untuk dijadikan simbol kesastraan.

Maman mengungkapkan jika hal itu memang perlu dikaji lebih jauh.

"Ya kita harus pelajari dulu novelnya layak atau tidak, seperti yang sudah jelas ya, karya maestro kita punya Pram (Pramoedya Ananta Toer), itu jelas kontribusinya dan itu sudah diterjemahkan berbagai bahasa harusnya itu yang diangkat," tutur Maman.

(https://www.viva.co.id/showbiz/film/1125379-dilan-corner-dan-hari-dilan-tuai-kritik)

Gelombang kritikan bikin tensi darah Kang Emil naik.

Pikiran Rakyat bikin judul berita, Ridwan Kamil Meradang Ditanya Urgensi Bangun Sudut Dilan.

Dengan nada meninggi, ‎ia meminta media massa tak membentur-benturkan persoalan mana yang penting antara kebudayaan kontemporer dan tradisi.

"Pertanyaanya memberi manfaat atau tidak, itu saja. Kalau memberi manfaat, kenapa tidak," kata Ridwan Kamil

Nada Ridwan Kamil agak meninggi dan mulai mengarahkan tubuhnya kepada pewarta Pikiran Rakyat yang menanyakan alasannya memilih Dilan dari pada tokoh-tokoh Sunda atau Jawa Barat lain yang berjasa dalam pengembangan budaya.

Pikiran Rakyat sempat memberikan contoh tokoh budaya Sunda seperti pedalangan Asep Sunandar Sunarya yang malah minim apresiasi dari pemerintah asalnya.

"Kan saya bilang hidup itu kan gimana momentum, Anda engga mendengar apa yang saya perbincangan. Saya membangun pusat budaya di semua daerah menandakan keberpihakan gubernur pada budaya itu begitu rupanya," ucap Ridwan Kamil.

(tipsmillennials.blogspot.com/search?q=" target="_blank">Menjawab Pidato Tudingan TGB terhadap Pendukung Prabowo

Perbedaan Kang Emil dengan Bang Anies


Itulah bedanya Kang Emil dengan Bang Anies.

Kang Emil disamping harus memikirkan membangun Jabar, juga harus mencari jalan agar Jokowi menang di Jabar.

Terserah bagaimana caranya.

Mau bikin sudut Dilan kek, sudut apa kek. Terserah.

Bikin sudut Dilan saja sudah menuai kritikan yang bikin Kang Emil meradang, gimana mau bikin terobosan lain untuk merayu warga Jabar agar mau memilih Jokowi.

Tabahkan hatimu, Kang. Dilan saja kuat menahan rindu, masa Akang nggak bisa menahan kritikan tajam. (Balya Nur)

Sabtu, 16 Februari 2019

Menjawab Pidato Tudingan TGB terhadap Pendukung Prabowo - Balya Nur

Balya Nur - Warga kampung sebelah dan orang-orang yang mengaku netral satu suara soal TGB.

Telunjuk nyinyir mereka diarahkan ke kampung sini. Mereka bilang, kenapa kalian dulu memuji TGB, sekarang bersikap sebaliknya?
orang yang mengaku netral satu suara soal TGB Menjawab Pidato Tudingan TGB terhadap Pendukung Prabowo - Balya Nur

Jawaban balik dengan pertanyaan, kalau kalian punya mantan, kenapa sekarang yang dipuji adalah kekasih yang sekarang?

Sebagai contoh, BTP memuji calon istrinya pintar masak, beda dengan mantan istrinya yang tidak pintar masak.

Menjawab Tudingan TGB


Pernyataan BTP itu menuai protes dari adiknya dan sejumlah pendukung BPT wabil khusus kaum hawa.

Atau begini.

Kalau kita memuji pembantu yang rajin bekerja lagi jujur, lalu karena pembantu kita jatuh cinta pada Satpam komplek, kerjanya jadi nggak bener lagi nggak jujur.

Baca juga: Tukang Uninstall di Uninstall

Apakah kita masih memujinya sebagai pembantu yang baik?

Perubahan perilaku seseorang akan diikuti oleh penilalain orang lain. Hal itu wajar saja.

TGB dulu tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja.

Keberhasilan memimpin NTB 2 proide sudah tidak diragukan lagi.

Kalau ada yang meragukan, bahkan ada yang menghina dan menihilkan prestasinya, pastilah itu kampung sebelah. Silakan cek jejak digitalnya.

Sebagai alumni Mesir, keulamaannya pasti tidak diragukan lagi.

Dia ceramah ke sana kemari.

Sedikit bicara politik, banyak bicara soal agama.

Perpaduan kecakapan di pemerintahan dan ahli ilmu agama inilah yang menjadikan TGB sebagai sosok ideal sebagai pemimpin masa depan.

Elektabilitasnya mulai nampak karena dukungan mayoritas kampung sini yang rindu pada kepemimpinan model TGB.

Perlahan tapi pasti, elektabilitasnya mulai merangkak naik. Padahal TGB minim sekali bicara soal politik, lebih banyak bicara soal agama.

Ketika TGB mulai bicara politik, para pendukungnya menunggu dengan tegang.

Kemana arah politiknya dilabuhkan?

Setelah terus terang TGB menyatakan dukungannya pada Capres yang bukan pilihan para pendukungnya, serta merta elektabilitasnya terjun bebas.

Tapi para mantan pendukungnya tetap menghormati TGB sebagai seorang ulama.

Karena waktu itu TGB masih lebih banyak bicara soal agama ketimbang politik.

Masih ceramah ke sana kemari.

Kalau ada satu dua para mantan pendukungnya yang marah, kebablasan memaki TGB yang lebih kental keulamaannya ketimbang sebagai politisi,

Ya karena tidak semua orang punya pengalaman hidup memuliakan ulama.

Sampai disini, saya mau kasih perbandingan mutakhir.

Beberapa bulan lalu, Presiden Jokowi dan para pendukungnya memuji habis Bukalapak.

Cukup dengan satu kicauan pendek boss Bukalapak, keadaan berbalik 180 derajat.

Para pendukung Jokowi berusaha menenggelamkan Bukalapak dengan tagar uninstall Bakalapak.

Imbauan Presiden Jokowi agar para pendukungnya menginstall ulang Bukalapak tidak didengarkan oleh pendukungnya.

Mereka sudah terlanjur sakit hati dengan kicauan boss Bukalapak.

Pertanyaan buat orang-orang yang mengaku netral.

Perubahan sikap kedua kubu pada TGB, kenapa yang disasar hanya satu kubu saja?

Kenapa tidak juga ditanyakan pertanyaan yang sama kepada kubu yang dulu nyinyir pada TGB sekarang berbalik memuji TGB?

Pertanyaan yang sama pada warga kampung sebelah, kenapa usil mempertanyakan sikap kampung tetangga yang balik arah dukungan pada TGB?

Kenapa tidak bertanya pada tetangga dekatnya yang juga mendadak memuji TGB?

Dua bulan terakhir ini, TGB sudah menjadi politisi murni tanpa campuran.

TGB telah menjelma menjadi sosok politisi sejati. Tercermin dari pernyataan pernyataan mutakhirnya.

Makanya tulisan ini dibuat. Mengkritisi politisi bukan pekerjaan durhaka.

Setelah acara debat antar Capres episode dua, ada “debat” lanjutan antar timses mendebat soal debat Capres.

TGB tampil sebagai juru bicara kubu Jokowi.

Berbeda dengan debat sebelumnya, kali ini sejumlah media online sepakat membandingkan dengan cepat ucapan dua Capres yang berdebat dengan data dan fakta yang sebenarnya, dengan cara menginformasikan setiap sesi debat.

Dari sejumlah fakta yang dibongkar oleh media online, tertulis dengan jelas sejumlah data yang tidak sesuai dengan yang diucapkan oleh Capres Jokowi.

Media tidak menyebutnya sebagai kebohongan, tapi hanya bilang, tidak sesuai fakta.

Tapi bagi kubu oposisi tentu saja lebih tajam, mereka menyebutnya sebagai kebohongan.

Sebagai juru bicara kubu Jokowi, TGB tentu saja harus membela apa yang disebut oleh kubu oposisi sebagai kebohongan.

Membela kebohongan sudah menjadi sifat dasar politisi sejati.

Membela kebohongan dalam konteks ini bukan berarti membela kebohongan, tapi meluruskan kebohongan menjadi seolah bukan kebohongan.

Misalnya ketika dulu Prabowo mengatakan, Malaysia lebih besar dari Jawa Tengah, kubu petahana menuduh Prabowo berbohong.

Tapi kubu Prabowo membela dengan meluruskan, yang dimaksud bukan luas wilayah, tapi jumlah penduduk.

Ucapan politisi tidak bisa diartikan verbatim.

Tidak ada lagi kebakaran hutan tidak bisa diartikan tidak ada kebakaran hutan, tapi bisa berarti penurunan kebakaran hutan.

Tidak ada lagi konflik agraria tidak bisa diartikan tidak ada konflik agraria, tapi bisa bermakna ganti untung.

Bingung?

Jangan bingung kalau berhadapan dengan politisi murni.

Begitulah bahasa TGB sekarang.

Dia seolah menjadi juru tafsir ucapan verbatim Capres Jokowi.

Dia tidak peduli pada sejumlah media yang membongkar sejumlah kebohongan data yang diucapkan Jokowi, pokoknya bagi TGB Capres jokowi dalam debat ini menyampaikan argumennya dengan gaya bicara yang singkat, tegas, lugas, dan jernih.

Dengan modal pengetahuan mutakhir soal TGB ini, saya mau menengok sejenak ke belakang beberapa pernyataan TGB.

TGB pernah memuji Presiden Jokowi sangat perhatian pada NTB sampai beberapa kali mengunjungi NTB padahal pada Pilpres 2014 Jokowi kalah telak di NTB.

Itu sebagai bukti bahwa Presiden Jokowi sama sekali tidak sedang bekerja untuk elektoral.

Jawabannya mudah saja.

Bagi politisi, daerah yang dulu kalah harus diberi perhatian lebih.

Sesederhana itu jawabannya.

Masa sih nggak paham?

Kalau belakangan ini duet UYM dan TGB sedang gencar memuji keislaman Jokowi, itu sih hal biasa dalam setiap pilpres.

Dulu ketika di NTB Jokowi menjadi imam shalat maghrib, TGB ditanya soal bacaan sholat Jokowi, TGB menjawab diplomatis , “ Bacaannya terang.“

Padahal kriteria “terang” tidak dikenal dalam menilai bacaan sholat.

Tapi sudahlah, memuji Capres yang didukung adalah wajar saja.

Hak segala para pendukung.

Beda lagi Kalau sudah merembet menyinggung pada lawan politik.

Harus dijawab tuntas.

Dalam sebuah pidatonya yang diunggah di Youtube, TGB bukan cuma memuji Jokowi, tapi menyinggung sikap para pendukung Prabowo.

Dari soal HRS, soal kebebasan beribadah, dan soal lainnya.

Pidato TGB dalam video yang beredar di youtube ini adalah semacam deklarasi NW untuk Capres Jokowi.

Tentu saja tidak ada yang salah.

Tapi isi pidato TGB yang menyinggung pendukung Prabowo, tentu saja harus dijawab.

Menjawab TGB - Isu Kebebasan Beragama di Indonesia


TGB bicara secara umum soal kebebasan beragama di Indonesia.

Umat Islam yang menjalankan ibadah di bumi Indonesia tercinta ini menurut TGB, di era Jokowi tidak ada tekanan, tidak ada kriminalisasi.

Beliau memberi contoh maraknya majelis taklim yang bukan hanya di masjid-masjid, tapi juga di lapangan-lapangan, di jalan-jalan.

Begitu juga soal ekonomi syariah yang marak.

Kalau soal itu sih bukan hanya di era Jokowi, sejak era orde lama, orde baru sampai orde reformasi, umat Islam bebas menjalankan ibadahnya.

Bahkan konon di era penjajahan, umat Islam bebas mengaji di surau atau pesantren, dengan syarat jangan berani ngeledek Belanda.

Memahami makna kriminalisasi ulama bukan berarti menekan semua ulama.

Itu sih namanya rezim yang nekad bunuh diri.

Dulu di era orba, ada saat pemerintah orba “bermusuhan” dengan umat Islam.

Tapi bukan berarti pemerintah orba tidak dapat dukungan dari ulama.

Banyak lah ulama yang menjadi pendukung pemerintah orba.

Waktu itu pemerintah orba hanya mengawasi dengan ketat ceramah-ceramah para da’i yang dianggap melawan pemerintah orba yang otomatis dianggap melawan pancasila.

Lihat juga: Man of The Match Debat Capres 2019

Tapi soal ibadah mahdhoh mah bebas-bebas saja.

Bahkan pemerintah juga menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam.

Maknanya jelas, muslim yang “dimusuhi” oleh pemerintah orba adalah yang tidak mendukung Golkar.

Umat Islam pendukung Golkar jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang dianggap sebagai “musuh” pemerintah.

Dan itu sudah cukup dicatat sejarah sebagai masa pemerintah orba tidak harmonis dengan umat Islam.

Pada akhir pemerintah orba, barulah disebut sebagai pemerintah orba lebih ramah pada umat islam ditandai dengan munculnya ICMI.

Kurang lebih mirip lah dengan sekarang.

Misalnya begini.

Sekarang ini, banyak yang teriak soal intoleransi.

Jakarta disebut sebagai kota paling tidak toleran.

Pertanyaannya, apakah di Jakarta ada non muslim yang dihalangi ke tempat ibadahnya?

Jawabannya tentu saja tidak.

Tapi kenapa dituduh kota paling intoleran?

Ini bisa menjawab sebagian argumen pertanyaan TGB, kenapa sekarang ada isu tekanan terhadap umat Islam?

Padahal umat Islam bebas-bebas saja menjalankan ibadahnya.

Ditambah lagi petahana mengangkat cawapres ulama.

Sayangnya, TGB tidak sama sekali menyinggung contoh kriminalisasi masjid dan khatib yang gagal total melalui isu 40 masjid radikal.

Entah dapat ide dari mana, mendadak BIN mengumumkan ada 40 masjid yang terpapar radikalisme.

Tentu saja masjid adalah benda mati yang tidak dapat bicara, tapi yang dimaksud adalah khatibnya.

Pernyataan BIN ini spontan diikuti oleh sejumlah pejabat.

Rakyat seolah ditakut-takuti akan terpapar radikalisme.

Tapi ternyata, BIN hanya copas dari penelitian P3M dengan sponsor dari oknum tertentu yang punya hubungan dengan parpol tertentu.

Hal itu terbongkar dari “dalang” penelitian itu yang dikupas habis di acara ILC TV One.

Setelah terdesak, peneliti P3M itu mengatakan, penelitiannya masih mentah belum bisa dijadikan rujukan. Belum bisa dijadikan kesimpulan.

Setelah pengakuan itu, isu masjid radikal mendadak lenyap!

Itu cuma satu contoh.

Coba, kalau ILC tidak membongkar praktik kriminalisasi khatib ini, sampai sekarang dan akan datang, 40 masjid itu tetap jadi tersangka walaupun tanpa bukti.

Dalam pidato ini, TGB juga menyinggung soal pengeras suara masjid.

“Bahkan tidak seperti yang ada di Saudi, di Mesir atau negara-negara yang lain, bahwa loadspeaker masjid itu hanya berbunyi ketika azan, di Indonesia tidak sedikit loadspekaer yang sudah bunyi setengah jam sebelum azan walaupun disitu tidak ada orang, nyala loadspeakernya. Ngaji panjaaaang…Dimana mau…pergi ke Turki, ada nggak. Sebelum sholat itu ada ngaji sepuluh menit, setelah sholat ada ngaji, ndak ada. Ada ndak majelis ta’lim yang menggunakan speaker masjid, setelah misalnya zohor kemudian pake speaker, pengajian, atau setelah maghrib. Di Turki, di Mesir, di Saudi, ada ndak? Tidak. Kalau pun pengajian itu ada, dia pakai speaker dalam, tidak menggunakan speaker luar. Jadi jangan termakan oleh hasutan bahwa di Indonesia ini kita Islam susah. Tidak. “

Entahlah. Apakah TGB mengikuti kasus Melliana yang berujung pada tuntutan pembatasan penggunaan loadspeaker.

Memang sudah ada aturan penggunaan loadspeker sejak tahun 1978.

Tapi muncul tuntutan agar aturannya lebih ketat.

Pemerintah pun merespon tuntutan itu, tapi entah kenapa mendadak berhenti.

Barangkali karena jelang pilpres. Nggak menguntungkan untuk elektablitas.

Jika misalnya terpilih kembali, tuntutan pengetatan penggunaan loadspeaker masjid yang disuarakan oleh mayoritas pendukung petahana, bukan mustahil akan direalisasikan.

Apalagi Capres petahana sudah tidak bisa nyalon lagi pada proide berikutnya, jadi nggak risau soal elektablitas.

Menjawab TGB - Isu Tentang HRS


Satu hal lagi soal HRS.

TGB mengatakan:

“Dikatakan dan dicontohkan oleh banyak pihak, bahwa pada masa bapak Jokowi ini ada kriminalisasi, contohnya kepada Habib Rizieq. 

Apa yang sebenarnya sekarang terjadi, benar bahwa Habib Rizieq pernah ditersangkakan, tapi kemudian di SP3-kan. 

Ada proses hukum, lalu SP3. 

SP3 itu artinya tidak masuk pengadilan apalagi masuk penjara. 

SP3 itu stop kasusnya. 

Di masa sebelum Pak Jokowi, Habib Rizieq tidak hanya ditersangkakan, bahkan beliau diterdakwakan, diadili, dipenjara. 

Dan menghabiskan waktu hukuman di penjara sampai beliau bebas. 

Kenapa pada waktu itu tidak ada yang mengatakan kriminalisasi ulama? 

Apakah masih tidur seperti ashabul kahfi dan baru sekarang bangun? 

Ini pertanyaan sederhana. 

Kemana Anda dulu waktu beliau di penjara? 

Kenapa Anda tidak mengatakan pemerintah sebelum Pak Jokowi kriminalisasi ulama? 

Tidak ada yang ngomong begitu. 

Padahal yang dialami dan yang diderita oleh Habib Rizieq Shihab itu jauh lebih berat dari sekarang. 

Kalau sekarang, tersangka tapi selesai, SP3. Tidak jadi. 

Karena tidak cukup bukti. 

Tapi kalau dulu, tidak hanya tersangka, terdakwa, terpidana, menunaikan hukuman, mana sekarang yang membela beliau itu dulu? Mana? 

Artinya apa, bapak-bapak? 

Suara-suara yang menggunakan nama beliau sebagai alasan sebagai terjadi kriminalisasi ulama, suara-suara itu semata-mata adalah suara yang tidak suka pada Presiden. Karena tidak suka saja.“

Sekurangnya, ada dua asumsi TGB.

Pertama, dia mengangagap HRS dulu sewaktu dipenjara lebih menderita daripada sekarang.

Kedua, suara kriminalisasi ulama bukan datang dari HRS, tapi dari orang-orang yang mengatas namakan HRS.

Padahal faktanya, HRS lah yang paling sering menyebut kriminaliasi ulama.

Barangkali karena TGB tidak mau menyinggung perasaan HRS, ulama yang dihormatinya.

HRS dipenjara selama 7 bulan pada tahun 2003 atas kasus sweeping tempat hiburan malam yang dilakukan oleh FPI.

HRS menyadari, sweeping adalah melanggar hukum, dia melakukannya karena aparat dianggap "Gubernurnya budek, DPRD-nya congek, polisinya mandul."

HRS menerima dengan ikhlas hukuman itu.

Bahkan dia menganggap penjara seperti Taman Mini Indonesia Indah.

Dalam sel sempitnya dijejali dengan sejumlah buku.

Di penjara itu juga dia mengajar ilmu gama kepada para napi.

Tahun 2008 HRS masuk penjara lagi selama setahun lebih gara-gara insiden kekerasan di Monas.

Waktu itu FPI bersama sejumlah ormas Islam mengobrak-abrik acara unjuk rasa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

AKKBB yang terang-terangan mendukung keberadaan Ahmadiyah.

FPI memang dikenal penentang keras keberadaan Ahmadiyah.

Waktu itu HRS paham betul kalau tindakannya melanggar hukum positif yang berlaku di Indonesia.

Makanya dia terima hukuman itu sebagai resiko perjuangan.

Jadi tidak benar kalau HRS lebih menderita saat itu dibandingkan sekarang.

Dan waktu itu orang yang bersimpati pada FPI belum berani bersuara.

Cuma bisa berimpati dalam hati.

Ditambah lagi mayoritas media memusuhi FPI.

Setelah aksi 212, barulah suara simpati itu terang-terangan disuarakan.

Sekarang, justru SP3 itu semakin menegaskan kriminalisasi ulama.

Tidak ada alat bukti yang cukup, tapi dipaksakan menjadi tersangka.

Lagi pula diantara sejumlah pelaporan itu adalah kejadian yang sudah berlangsung beberapa tahun lalu.

Bagi ulama, tuduhan melakukan perbuatan mesum, dalam hal ini chat mesum jauh lebih jahat dari tuduhan pembunuhan.

Walaupun sudah di-SP3, tapi daya rusaknya sudah tidak bisa lagi dijahit.

Hinaan terhadap HRS soal tuduhan mesum ini masih terus berlangsung, tidak peduli apakah tuduhan itu sudah dimentahkan oleh SP3 atau tidak.

Inilah kriminalisasi paling effektif.

Tidak masuk penjara, tapi nama baik telah dirusak.

Lihat juga: Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!

Dan TGB melihat persoalan itu dengan kacamata kuda, tidak melihat dari sudut pandang lain.

Tulisan “pembelaan” terhadap HRS ini bukan mustahil berakibat hukuman lebih keras dari fesbuk setelah sebelumnya saya dihukum tiga hari, dan tiga hari lagi gara-gara menulis soal HRS dan 212.

Tidak apalah. Apa yang dialami HRS belum seberapa dibanding sekedar nggak boleh fesbukan.

Catatan: Dikutip dan dicopas dari status facebook opini Balya Nur, dan diterbitkan dalam blog opini awambicara, atas izin yang bersangkutan.

Rabu, 13 Februari 2019

Tukang Uninstal Di Uninstal - Oleh Balya Nur! #UnistallBukalapak dibayar Tunai dengan #UninstallJokowi

HUT ke-9 Bukalapak boleh dibilang hari baik kubu Jokowi. Padahal yang ultah Bukalapak, tapi yang sumringah kubu Jokowi.

Achmad Zaky sebagai CEO Bukalapak bukan cuma sumringah, tapi juga bangga mendadak menjadi orang penting.
 Bukalapak boleh dibilang hari baik kubu Jokowi Tukang Uninstal Di Uninstal - Oleh Balya Nur! #UnistallBukalapak dibayar Tunai dengan #UninstallJokowi

Jokowi sebagai presiden menitipkan 56 juta UMKM yang ada di Indonesia agar bisa ditampung di Bukalapak.

Sampai saat ini Bukalapak baru menampung 4 juta UMKM.

Tentu saja Bukalapak bukan satu-satunya e-commerce yang beroperasi di Indonesia.

Lihat juga: Tuduhan Radikal dan Seracen Kembali ke Penuduh

Tapi sabagai Made in Indonesia, Achmad Zaky menjadi berbeda, dan punya nilai jual wabil khusus dalam persaingan pilpres.

#UninstallJokowi #ShutdownJokowi #InstallPrabowo


Ultah ke-9 Bukalapak yang disiarkan oleh televisi swasta menjadi ajang pameran Jokowi yang ingin menegaskan dia bukan pro Asing dan pro Aseng seperti yang dituduhkan selama ini.

Juga sebagai ajang pameran kepeduliannya pada pengusaha lokal, juga pada UMKM.

Padahal yang paling gencar bicara ekonomi kerakyatan adalah kubu Prabowo.

Makanya pada bagian ini, kubu Prabowo tidak punya pintu masuk untuk mengeritik, apalagi nyinyirin Jokowi yang kelihatan girang banget di hari ultah ke-9 Bukalapak.

Kubu Prabowo lebih memilih diam, cukup jadi penonton saja melihat Jokowi seolah jadi pahlawan UMKM.

Bukan cuma itum, hari sumringah itu boleh dibilang, Jokowi adalah Bukalapak,

Bukalapak adalah jokowi, Bukalapak dan Jokowi adalah UMKM.

Bukalapak menjual elektabilitas secara online, dan telah diborong oleh Jokowi.

Kubu Prabowo cuma bisa menunggu, siapa tahu sebagaimana biasa, kubu Jokowi suka bikin blunder yang tidak terduga.

Dan benar saja, hari blunder itu datang lebih awal dari dugaan.

Bermula dari cuitan Achmad Zaky yang mengeritik omong kosong industry 4.0.

Kalau cuma itu, kubu Jokowi masih bisa terima.

Tapi pada akhir cuitnya dia menulis, mudah-mudah presiden baru bisa naikin.

Presiden baru ini yang bikin pendukung Jokowi murka.

Tanpa pikir panjang, ramai-ramai menyerbu Bukalapak dengan amarah tagar #Uninstallbukapalak.

Rekam jejak Achmad Zaky dikorak-korek.

Dari jejak itu, dimunculkan kalau Zaky adalah kader PKS.

Tentu saja, kubu Prabowo seperti mendadak ketiban rejeki nomplok.

Seluruh kesumringahan yang didapatkan Jokowi pada ultah ke-9 Bukalapak, diborong semua oleh kubu Prabowo.

Untuk menumpahkan seluruh pundi-pundi tabungan elektabilitas peduli pada UMKM dari kantong Jokowi.

Mula-mula Kubu Prabowo memberondong tagar #InstallBukalapak dengan narasi besar, kubu Prabowo membela pengusaha lokal dan membela UMKM.

Tanpa harus menghadiri ultah bukalapak, tanpa harus mengerahkan relawan, tanpa menyewa gedung plus nasi kotak dan segela tetek bengek lainnya.

Tanpa harus menyewa jam siar tayangan televisi, namun cukup dengan menggerakan jempol di hape pintar, kubu Prabowo berhasil mengambil alih seluruh kemewahan yang didapatkan Jokowi saat ultah bukalapak.

Mendadak kubu Jokowi menjadi musuh UMKM, kubu Prabowo menjadi pahlawan UMKM. Blunder tak bertepi.

Bonusnya, kubu Prabowo seolah menelanjangi kepedulian pemerintah Jokowi pada UMKM hanya sekedar pemanis bibir, padahal Jokowi cuma peduli pada elektabilitas.

Buktinya, setelah tahu atau diduga boss Bukalapak tidak mendukung 2 priode, pendukung petahana ngamuk-ngamuk, menuduh Bukalapak tidak tahu terima kasih, kacang lupa pada kulitnya.

Kubu Jokowi seolah menelanjangi junjungannya sendiri.

Jika sudah ditolong pemerintah, maka wajib mendukung tagar 2 priode.

Berarti?

Para penerima sertifikat tanah, para penerima pemasangan listrik gratis, dan segala bantuan lainnya harus belajar dari kesalahan Bukalapak.

Jangan coba-coba bilang presiden baru! Begitu kira-kira tafsirnya.

Ya, kurang lebih sekelas caleg atau kepala desa yang sudah nyumbang ini, nyumbang itu tapi nggak kepilih.

Ada yang mengambil kembali karpet yang sudah disumbangkan ke Masjid, bahkan ada calon kepala desa gagal, menutup akses jalan umum yang selama ini sudah dihibahkan untuk kepentingan umum.

Tukang Uninstall Diuninstall


Sudah kepalang tanggung, kubu Prabowo terus merangsek dengan tagar #UninstallJokowi.

Secara makna, #UninstallJokowi lebih dahsyat dari tagar #2019GantiPresiden.

Kalau ganti presiden, masih menyisakan sebagai mantan presiden.

Kalau sudah diuninstall, artinya tidak menyisakan apa-apa.

Ada juga software yang bisa mengembalikan beberapa memori installannya, tapi biasanya sebagian sudah cacat.

#UninstallJokowi juga bisa bermakna: Pemerintah Jokowi selama ini gemar menginstall, lalu dalam waktu yang tidak berapa lama menguninstall lagi. Dan itu sering dilakukan.

Misalnya, kasus pemukulan petugas KPK yang dilakukan oleh oknum aparat pemerintah yang di bawah tanggung jawab Mendagri, lalu muncul isu Mendagri melarang instansi pemerintah di bawah tanggung jawabnya, mengadakan rapat di hotel seperti curhatan Ketua PHRI di hadapan Presiden Jokowi.

 Bukalapak boleh dibilang hari baik kubu Jokowi Tukang Uninstal Di Uninstal - Oleh Balya Nur! #UnistallBukalapak dibayar Tunai dengan #UninstallJokowi

Tanpa pikir panjang, Presiden Jokowi menguninstall larangan itu.

"Pertama saya ingin menjawab apa yang menjadi statemen Mendagri dulu. Tadi baru saja diberitahukan, sudah beres pak, tidak ditindaklanjuti. Baru aja ini, Mendagri masuk jawabannya, tidak ditindaklanjuti," ujar Jokowi.

Sontak pernyataan Jokowi tersebut disambut riuh tepuk tangan satu ruangan.

Remisi terhadap pembunuh wartawan, yang diinstall oleh tanda tangan Presiden, tak lama kemudian, diuninstall lagi oleh tanda tangan yang sama.

Alasannya, demi rasa keadilan.

Sewaktu menandatangani dulu, entah alasan apa.

Dan install-uninstall itu pun mendapat ganjaran tepuk tangan para wartawan.

Sebelumnya, kenaikan premium telah diinstall, dalam hitungan jam diuninstall lagi.

Di kalangan para menteri juga begitu.

Misalnya, Mendagri mengatur soal jilbab yang dikenakan PNS, lalu diuninstall lagi.

Kalau mau ditulis seluruh install dan uninsatall, terlalu panjang. Cari tahu sendiri sajalah. Gampang kok. Itu belum termasuk daftar janji kampanye yang diuninstall.

Lihat juga: Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!

Jangan bermain api, akan terbakar nanti. Nasihat dalam konteks ini, jangan bermain-main dengan install-uninsatall, akan teruninstall nanti. Dan telah terbukti dengan #UninstallJokowi yang berlanjut dengan #ShutdownJokowi dan #InstallPrabowo.

Sekarang bayangkan begini.

Seandainya mendadak CEO Bukalapak mendadak teriak, “Jokowi 2 proide!“ lalu dibumbui nyinyiran kepada Prabowo.

Bagaimana nasib tagar #installbukalapak?

Nampaknya, kubu Prabowo sudah punya perhitungan yang matang. Biar saja tagar itu mangkrak, toh sudah punya tagar #UninstallJokowi, #ShutdownJokowi dan #InstallPrabowo.

Blunder Kubu Petahana Pilpres


Kembali ke soal blunder.

Setelah pekan blunder yang dilakukan pemerintah, kali ini pendukung petahana dalam kasus #uninstalbukalapak juga ikutan bikin blunder.

Kalau selama ini blunder demi blunder disikapi dengan cara ngeles sekenanya, maka strategi kampanye model baru yang dicanangkan TKN yang disebut sebagai strategi perang total bisa bikin ngeri-ngeri manyun.

Dalam perang total, kalau menang akan meninggalkan banyak luka.

Kalau sampai bikin blunder, akan sangat sulit diperbaiki, yang berujung pada kekalahan yang memalukan. Lihat saja nanti.

Skrinsut Tidak Tahu Terimakasih


 Bukalapak boleh dibilang hari baik kubu Jokowi Tukang Uninstal Di Uninstal - Oleh Balya Nur! #UnistallBukalapak dibayar Tunai dengan #UninstallJokowi

Membaca skrinsyut pencarian Google ini rasanya seperti sedang membaca perilaku peserta pemilu dan para pemilih.

Ada Caleg yang kalah, meminta lagi pesawat televisi yang sudah disumbangkan pada warga.

Warga nggak kalah galaknya, bukan mengembalikan pesawat televisi, tapi membakar kotak ajaib itu.

Ada juga caleg gagal, menarik kembali sumbangan material untuk pembangunan sebuah mushola.

Material berupa 2000 batu bata, 10 sak semen dan satu truk pasir yang diberikan untuk pembangunan mushola saat masa kampanye , ditarik kembali karena di tempat ini ia hanya memperoleh 29 suara.

Seorang kepala desa menyegel sebuah sekolah Taman Kanak Kanak dan Tempat Pendidikan Anak Usia Dini.

Bahkan mengancam akan mengusir seluruh guru dan kepala sekolahnya setelah dua orang caleg titipan sang kades kalah di TPS dusun ini.

Beda lagi cara Kades gagal melampiaskan kekesalannya, dia menutup akses jalan dengan tembok.

Memang sih, jalanan itu sebeagian adalah tanah miliknya.

Ada lagi cerita terbaru.

Boss Bukalapak saat ultah Bukalapak sudah dibantu promosi oleh Presiden Jokowi.

Karena kapasitasnya sebagai presiden, bukan capres, jadi wajarlah kalau Presiden mendorong usaha e-commerce yang mengangkut gerbong jutaan UMKM.

Apalagi bossnya ploduk-ploduk Indonesia punya.

Jadi, nggak ada hubungannya dengan pilpres.

Beda lagi cara pandang pendukung Capres Jokowi.

Mau saat jadi presiden kek, saat jadi capres kek, orangnya itu-itu juga.

Nggak lebih nggak kurang, Jokowi namanya.

Boss bukalapak harus punya rasa terima kasih.

Caranya, jangan mengeritik Jokowi, apalagi sampai berhayal #gantipresiden. Haram hukumnya!

Tapi entah bagaimana awalnya, mendadak boss bukalapak berharap presiden yang baru kelak bisa lebih berbuat banyak untuk industri 4.0.

Tentu saja pendukung Jokowi mengartikan yang dimaksud boss bukalapak dengan #presidenbaru bukan presiden yang akan kembali menjadi presiden priode kedua.

Berarti boss Bukalapak nggak ada rasa terima kasihnya.

Sebagai balasan, rame-rame bikin tagar #uninstallbukalapak.

Kontan rating Bukalapak turun. Dari 4.5 menjadi 4.1.

Nggak peduli seberapa kerugian UMKM yang ada di gerbong Bukalapak. Pokoknya yang penting, ai bantu yu.., yu harus dukung ai.

Ini pelajaran berharga bagi yang sudah mendapatkan bantuan presiden.

Apakah bentuk sertifikat tanah, pemasangan listrik, bantuan ini, bantuan itu.

Ya, mungkin saja Presiden walau ngarep dukungan, tapi nggak akan bereaksi kalau yang sudah dibantu tetap mengacungkan dua jari.

Tapiiii…, ingatlah apa yang dilakukan pendukung Jokowi pada boss Bukalapak.

Mau sertifkat ente diuninstall?

Ada yang menarik dari skrinsyut di bawah judul “#UninstallBukalapak yang Tidak Tahu Berterima Kasih Pada Presiden.”

Lihat: Jangan Bercermin pada Cermin Retak

Link Bukalapak menampilkan promo dengan judul “ Srigala yang Tidak Tahu Berterima Kasih.“

Ternyata itu judul buku dongeng anak-anak. Ya, #UninstallBukalapak juga mirip dongeng anak-anak, kok.

Note: Artikel ini diambil dari status opini FB Balya Nur, dan diterbitkan kembali di Opini Awam Bicara ID, atas persetujuan yang bersangkutan.

#UninstallJokowi #ShutdownJokowi #InstallPrabowo #InstallBukalapak #2019PrabowoPresiden #IndonesiaAdilMakmur

Sabtu, 09 Februari 2019

Tuduhan Radikal dan Seracen Kembali ke Alamat Pengirim oleh Balya Nur

“Jika fiksi adalah adalah suatu energi untuk mengaktifkan imajinasi, maka kibat suci adalah fiksi dan itu penting dan baik. Beda dengan fiktif, yang cenderung mengada-ada. Itu intinya.“

Begitu kira-kira penjelasan Rocky Gerung di depan polisi yang minta keterangannya.
Jika fiksi adalah adalah suatu energi untuk mengaktifkan imajinasi Tuduhan Radikal dan Seracen Kembali ke Alamat Pengirim oleh Balya Nur

Tapi para pembencinya nggak mau tahu. Pokoknya, dalam KBBI fiksi dan fiktif kalau dihubungkan dengan kitab suci, sama jahatnya.

Menurut KBBI, fiksi adalah cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya); rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan; pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran.

Sementara fiktif didefinisikan: bersifat fiksi, hanya terdapat dalam khayalan.

Lihat juga: Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!

Radikal dan Seracen


Sudah, cukup sampai disitu. Sudah capek bicara soal itu sejak beberapa bulan lalu.

Masa mesti mengulang lagi dari awal.

Saya mau bahas yang lagi hangat soal pengertian radikal.

Dalam KBBI, radikal yang asal katanya adalah radix, akar, maka radikal sama dengan segala sesuatu yang sangat mendasar sampai ke akar-akarnya, atau sampai pada prinsipnya.

Sarlito Wirawan membuat definisi, radikal adalah perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrim sampai ke akar-akarnya.

Maka boleh dibilang, radikal adalah hal yang positif, karena memegang teguh prinsip.

Buku Pelajaran SD - Ormas NU Radikal


Jika radikal adalah memegang teguh prinsip, yang berarti positif, maka Ormas NU adalah ormas radikal.

Begitulah argumen buku pelajaran kelas V SD yang diterbitkan tahun oleh Mendikbud.

Dalam buku tersebut NU digolongkan sebagai organisasi radikal di masa penjajahan.

Jika fiksi adalah adalah suatu energi untuk mengaktifkan imajinasi Tuduhan Radikal dan Seracen Kembali ke Alamat Pengirim oleh Balya Nur

Posisi NU juga bersandingan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI) sebagai organisasi penentang penjajah.

Tentu saja NU protes.

Berbeda dengan arti fiksi, arti radikal yang sudah terlanjur berkonotasi buruk, NU tidak mau kembali pada pengertian KBBI.

Pokoknya radikal itu jahat, titik.

Mendikbud harus merevisi buku itu.

"Jika ingin menggambarkan perjuangan kala itu, yang lebih tepat frasa yang digunakan adalah masa patriotisme, yakni masa-masa menentang dan melawan penjajah," kata Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini melalui siaran pers.

Kalau diganti dengan patriotisme maka tentu saja akan memunculkan masalah baru.

Kan disitu juga ada PKI.

Apakah buku itu nanti akan menempatkan PKI juga sebagai patriot?

Sudahlah, itu urusan mendikbud, mau direvisi kaya apa kek nantinya.

Sejak kapan radikal berkonotasi negatif?

Sejak pemerintah ini berkuasa.

Perang terhadap terorisme menyasar ormas Islam yang dituduh sebagai kelompok radikal.

Radikalisme adalah akar terorisme!

Maka ormas Islam seperti FPI, HTI, termasuk paguyuban 212 dituduh sebagai kelompok radikal yang harus diwaspadai.

Pemerintah seolah alergi bersentuhan badan dengan kelompok yang dituduh radikal ini.

Dandim yang pernah nekad melatih bela negara pada FPI, kontan dimutasi. FPI nggak berhak ikut latihan bela negara!

Di mana posisi NU? O, mereka beda.

Ormas Islam ini adalah penganut Islam washatiyah, nggak ke kanan, nggak ke kiri, Islam moderat, satu hal yang pasti setia pada pancasila dan NKRI.

Bukan cuma itu, Banser Anshor adalah garda terdepan melawan radikalisme.

Lihat juga: Man of The Match Debat Capres Pertama 2019

Mereka juga ikutan mengirim tuduhan kepada ormas-ormas semacam FPI, HTI, dan paguyuban 212 sebagai kelompok radikal!

Maka tidak heran kalau NU berang ormasnya ditulis sebagai ormas radikal oleh Mendikbud, walau radikal dalam pengertian positif.

Kan sama saja dengan istilah radikal yang kembali pada pengirimnya.

Abu Janda Dedengkot Seracen


Sekarang soal Saracen.

Ketika pentolan Saracen ditangkap, hebohnya minta ampun.

Seolah ada persekutuan besar yang melibatkan tokoh politik nasional yang akan bikin kacau via medsos.

Jika fiksi adalah adalah suatu energi untuk mengaktifkan imajinasi Tuduhan Radikal dan Seracen Kembali ke Alamat Pengirim oleh Balya Nur

Polisi berjanji akan membongkar tokoh politik yang menjadi dalang di balik Saracen.

Walhasil, ujungnya cuma soal kesalahan tukang servis internet dan emak-emak yang mengeritik ucapan seorang menteri.

Tapi karena hebohnya sudah bikin takut seantero jagad republik ini, maka siapa saja yang dituduh terlibat Saracen, sudah pasti celaka tiga belas!

Salah satu aktivis medsos yang rajin mengirim tuduhan Saracen ke lawan politiknya adalah Abu Janda alias Arya Permadi.

Mau Saracen beneran atau bukan, pokoknya yang berseberangan dengannya pasti dituduh Saracen!

Entah bagaimana ceritanya, facebook mengumumkan penutupan sejumlah akun, salah satunya akun FP Abu Janda.

Facebook memasukan akun Abu Janda sebagai kelompok Saracen!

Tentu saja Arya Permadi ngamuk-ngamuk nggak karuan.

Bukan soal akunnya yang ditutup, tuduhan dimasukan dalam daftar Saracennya itu lho!

Kan sama saja dengan tuduhan Saracen yang kembali ke alamat pengirimnya!

Nggak tangung-tanggung, Arya Permadi alias Abu Janda melayangkan somasi kepada pihak Facebook.

Arya mengultimatum Facebook untuk segera membersihkan namanya dari newsroom Facebook.

Dia meminta Facebook untuk segera membuat klarifikasi selambatnya 4 hari setelah somasi dilayangkan.

Lihat juga: Jangan Bercermin pada Cermin Retak

Kalau dalam 4 hari Facebook tidak clear-kan nama saya, kita akan gugat secara perdata sebesar Rp 1 triliun dan kita gugat secara pidana UU ITE

"Ini menghancurkan hidup saya, nama saya, reputasi saya, buat saya kehilangan penghasilan saya dan banyak hal lainnya," kata Abu Janda. Bayangkan saja seperti apa ekspresinya saat meratap seperti ini.

Dua peristiwa yang hampir bersamaan itu, terserahlah mau ditafsirkan seperti apa.

Note: Artikel ini diambil dari status opini Facebook Babeh Balya Nur, dan diterbitkan di Opini Awam Bicara atas persetujuan yang bersangkutan.

Selasa, 05 Februari 2019

Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Sejeg bujeg pemerintah bikin jalanan, dari jaman kumpeni sampe sekarang, baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasional.
 baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasi Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Diberitakan, diomongin terus menerus setiap hari, seolah-olah hanya pada jaman pemerintah ini sajalah satu-satunya pemerintah yang membangun jalan tol.

Lihat juga: Memukul dengan Meminjam Tangan Lawan

Jalan Tol


Kalau mau dibilang demi pencitraan buat nyalon 2 priode, lha dulu SBY juga nyalon 2 priode, tapi nggak pernah menepuk dada, ngebanggain jalan tol sebagai prestasi besar.

Sebab, siapapun presidennya, sudah pasti akan terus menambah ruas jalan tol. Soal panjang dan pendeknya ya sesuai kebutuhan.

Sama dengan ketua RT di lingkungan kita.

Buat benerin jalan di lingkungan kita, Pak RT ngajak warganya nyumbang semen, nyumbang ini itu, nggak ada bantuan dari pemerintah.

Setelah jadi, nunggu jalanan kering ditutup untuk sementara barang satu sampai tiga hari.

 baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasi Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Setelah itu siapa saja bebas dan gratis lewat jalan itu, mau warga RT setempat atau warga tamu dari seberang pulau pun bebas melenggang tanpa merasa tertekan karena nggak ikut nyumbang semen.

Juga nggak ada yang bilang itu jalanan milik Pak RT. Dari dulu ya begitu.

Baru sekarang lewat jalan tol harus pake syarat puja-puji pemerintah dulu. Mending kalau gratis.

Jalan tol yang dibangun sambung menyambung dari pemerintah yang satu ke pemerintah yang lain, diakui sebagai milik rezim yang berkuasa saat ini.

Klaim itulah yang dikritisi oleh sebagian besar masyarakat.

 baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasi Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Bukan masyarakat anti jalan tol, tapi anti kesombongan rezim.

Tapi karena dari awal sudah sombong, seolah jalan tol cuma miliknya dan hanya milik kelompoknya, kritikan itu dianggap sebagai memusuhi jalan tol.

Maka keluarlah kesombongan baru, bagi yang menolak rezim ini untuk berkuasa satu priode lagi, jangan lewat jalan tol!

Padahal soal lewat jalan tol atau tidak itu kan pilihan.

Kalau mau cepat sampai tujuan, ya masuk jalan tol dengan resiko harus bayar mahal.

Jadi bukan soal mendukung atau tidak mendukung 2 priode.

Walaupun pendukung militan 2 priode, ya tetap saja masuk tol harus bayar mahal.

Lihat juga: Presiden Diatas Semua Golongan Lambang Jari

Walaupun setiap bangun tidur selalu teriak di depan jendela, “2 priode! 2 priode! “ tetap saja nggak boleh lewat jalan tol kalau cuma punya motor.

 baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasi Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Melarang lawan politik lewat jalan tol, kan sama saja dengan kau berdagang di pinggir jalan, tapi kau hanya mau menjual barang pada pembeli yang sama pilihan politiknya.

Tanpa dilarang pun, sopir truk pengangkut barang mulai mengeluh dengan mahalnya tarip jalan tol.

Kalau nggak buru-buru amat, mereka lebih memilih lewat jalan non tol. Hitung-hitungannya sudah jelas.

Lagipula, kalau punya duit buat bayar tol pun, jika kau bertagar #2019gantipresiden, sepanjang jalan tol kau pasti akan merasa tertekan.

Suara larangan itu terus bergema sepanjang jalan tol, seolah sepanjang jalan tol kau ditertawakan oleh para pengusung 2 priode.

Jadi, jalan tol itu penting nggak penting.

Bagi keluarga yang mau pulang kampung, kalau nggak mau buru-buru amat, walaupun punya duit buat bayar tol, lebih memilih jalan non tol.

Pemandangan sepanjang jalan tol sangat membosankan!

 baru kali ini pemerintah bikin jalanan wabil khusus pembangunan jalan tol jadi heboh nasi Mana Jalan Tolmu? Ini Jalan Tolku!! oleh Balya Nur

Lewat jalan non tol bisa melihat pemandangan bermacam-macam. Bisa mampir di warung dengan pemandangan hamparan hijau yang menakjubkan.

Bisa jadi semacam studi tour keluarga.

Ngasih tahu ke anak-anak, ini namanya kota ini, itu namanya kota itu.

Bisa berhenti sejenak di pinggir sawah ladang, duduk di tepi ladang sambil buka perbekalan.

Lihat juga: Jangan Bercermin di Cermin Retak

Bisa beli oleh-oleh dengan lebih banyak pilihan dibanding yang dijual di area peristirahatan jalan tol.

Perjalanan jauh lebih mengesankan.

Itulah bedanya pemerintah yang membuat jalan tol hanya untuk kepentingan umum dengan pemerintah yang membangun jalan tol sekalian numpang tenar.

Catatan: Artikel ini diambil dari opini/ status Facebook babeh Balya Nur, 08 Februari 2019.